Nama Syekh Bela-Belu ini telah disebut dalam tulisan sebelumnya tentang Makam Panembahan Selohening, sebagai salah satu anak Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.
Dikisahkan bahwa Syekh Bela-Belu dan Syekh Damiaking masuk Islam mengikuti jejak gurunya, yaitu Panembahan Selohening,
yang masuk Islam terlebih dahulu setelah kalah berdebat beradu ilmu
dengan Syekh Maulana Maghribi. Kisah lebih lanjut mengenai Syekh
Bela-Belu bisa dibaca di blog Jalan Trabas.
Gapura Makam Syekh Bela-Belu yang berada persis di tepi sebelah kiri
Jalan Parangtritis, jika pengunjung datang dari arah Yogya. Dasar
undakan menuju ke puncak perbukitan dimana Makam Syekh Bela-Belu berada
terlihat di belakangnya.
Kuncup bunga berwarna kuning dengan kelopak bunga hijau di puncak
pilar-pilar gapura mungkin menjadi penanda bahwa yang empunya makam
masih memiliki darah bangsawan. Nama Damiaking yang terlihat pada gapura
adalah adik Syekh Bela-Belu yang sama-sama menyingkir dari Majapahit.
Tidak ada pos jaga atau petunjuk lain di sekitar gerbang masuk Makam
Syekh Bela-Belu ini, sehingga kami pun langsung melangkahkan kaki
menapaki satu persatu undakan, tanpa mengetahui seberapa banyak jumlah
undakan yang harus kami lalui.
Undakan menuju Makam Syekh Bela-Belu ternyata lumayan panjang, tajam
menanjak, dan berkelak-kelok. Setidaknya ada lima kelokan menanjak
sebelum sampai di pintu gapura atas Makam Syekh Bela-Belu.
Namun karena kelak-kelok ini pula yang membuat pejalan memiliki
kesempatan untuk melihat pemandangan lepas yang indah dari pinggang
bukit ke arah Laut Selatan, di cukup banyak titik di sepanjang
perjalanan.
Konon setelah menyingkir dari Majapahit lantaran diserbu Demak, Syekh
Bela-Belu yang memiliki nama asli Raden Dandhun itu menetap di
perbukitan ini. Namun Situs Tembi menyebutkan bahwa nama asli Syekh Bela-Belu adalah Raden Jaka Bandem.
Dari salah satu titik undakan menuju Makam Syekh Bela-Belu saya bisa
melihat replika Ka’bah dari ketinggian, yang telah saya lihat juga
sebelumnya dari area gumuk pasir. Sebagian gunungan pasir terlihat di
sebelah kanan, dengan latar belakang pantai Laut Selatan.
Silir angin di sepanjang perjalanan pendakian, serta pepohonan yang
menaungi undakan, membuat perjalanan terasa tidak begitu berat. Pada
titik undakan lain di pinggang bukit menuju Makam Syekh Bela-Belu, saya
bisa melihat area di sekitar Pantai Parangkusumo.
Dari citra satelit, saya perkirakan panjangnya undakan ini tidak
kurang dari 300 m, jika ditarik sebagai garis mendatar. Tidak terlalu
jauh sebenarnya, namun karena lintasannya menanjak tinggi membuat saya
harus beristirahat beberapa kali sambil menikmati panorama Laut Selatan
yang indah.
Kami sempat berpapasan dengan sekitar lima orang yang tengah menuruni
undakan, dan dari cara berpakaian dan kotornya tubuh mereka tampaknya
mereka adalah para pekerja yang tengah melakukan suatu perbaikan
bangunan di atas sana. Belakangan saya tahu bahwa salah satunya adalah
kuncen Makam Syekh Bela-Belu.
Beberapa puluh meter sebelum sampai di pintu gerbang atas Makam Syekh
Bela-Belu lintasannya agak mendatar, dan terdapat beberapa buah warung
di sebelah kanan. Sementara di sebelah kiri tampak beberapa buah makam,
serta sebuah Arca Resi Agastya dengan posisi berdiri namun kepalanya
telah terpenggal, diapit oleh dua arca lain dalam posisi satu lutut
menempel dasar, dan satu lutut lagi menekuk ke atas.
Resi Agastya terkenal sangat berjasa dalam penyebaran agama Hindu. Ia
lahir di Kashi atau Benares, India. Lantaran kebesaran dan kesuciannya
ia juga disebut Batara Guru, sebagai perwujudan Siwa di dunia untuk
mengajarkan dharma.
Cungkup dimana Makam Syekh Bela-Belu dan makam Syekh Damiaking berada,
dengan gerbang masuk terlihat di sebelah kirinya. Foto ini diambil dari
pesanggrahan yang digunakan oleh para peziarah untuk beristirahat.
Pintu kayu yang merupakan akses masuk ke dalam Makam Syekh Bela-Belu
dibiarkan terbuka tak terkunci meskipun kuncen tengah pergi ke bawah
mengambil bahan material bangunan. Tempat pedupaan, dengan cerobong asap
di atasnya, serta kotak tempat sedekah, tampak berada di sebelah kiri
pintu masuk yang bercat dominan hijau dan kuning ini.
Di dalam cungkup Makam Syekh Bela-Belu terletak berdampingan dengan
Makam Syekh Damiaking. Selama hidupnya Syekh Bela-Belu konon suka sekali
makan nasi ayam liwet, yaitu nasi yang dimasak dengan santan kelapa dan
diisi daging ayam. Karenanya peziarah yang doanya terkabul akan
mengadakan syukuran dengan membuat caos dhahar (mempersembahkan makan) berupa nasi liwet ayam ini.
Area Makam Syekh Bela-Belu di puncak perbukitan ini cukup luas, dan
terlihat relatif rapi. Lazimnya adalah para peziarah yang ingin doanya
terkabul, atau setelah doanya terkabul, yang memberikan sedekahnya untuk
melakukan perbaikan di tempat seperti ini.
Sebuah arca Lembu Nandi sepanjang sekitar 80 cm dalam posisi kaki
tertekuk dengan kepala telah terpenggal tampak teronggok di samping
pesanggrahan Makam Syekh Bela-Belu. Karena di bukit ini dulu Syekh
Bela-Belu memiliki kegiatan membuat patung yang diantaranya adalah
patung punakawan dan patung banteng, maka bukit itu kemudian dikenal
oleh penduduk sebagai Bukit Banteng atau Gunung Banteng.
Di sebelah kanan atas pintu terdapat tulisan yang diukir pada
sebidang kayu yang berbunyi “Pasarean Syeh Belabelo Damiaking”, dan di
bawah ada peringatan larangan untuk tidur di tempat ini tanpa ijin.
Saya sempat menunggu kedatangan kuncen Makam Syekh Bela-Belu sekitar
lima belas menit di area makam, namun tidak berbincang lama setelah ia
datang. Namanya Bapak Jumadi yang saat itu telah berusia 64 tahun.
Menurutnya, jumlah undakan yang harus dilalui pengunjung untuk sampai ke
Makam Syekh Bela-Belu adalah 350 buah. Ia juga mengatakan bahwa Makam
Syekh Bela-Belu lazimnya ramai dikunjungi peziarah setiap malam Jumat
Kliwon dan Selasa Kliwon, serta akan jauh lebih ramai pada malam 1
Syuro.

