Pages

Selasa, 01 September 2015

Makam Syekh Bela-Belu, Yogyakarta


      Nama Syekh Bela-Belu ini telah disebut dalam tulisan sebelumnya tentang Makam Panembahan Selohening, sebagai salah satu anak Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.
      Dikisahkan bahwa Syekh Bela-Belu dan Syekh Damiaking masuk Islam mengikuti jejak gurunya, yaitu Panembahan Selohening, yang masuk Islam terlebih dahulu setelah kalah berdebat beradu ilmu dengan Syekh Maulana Maghribi. Kisah lebih lanjut mengenai Syekh Bela-Belu bisa dibaca di blog Jalan Trabas.
makam syekh bela-belu parangtritis
      Gapura Makam Syekh Bela-Belu yang berada persis di tepi sebelah kiri Jalan Parangtritis, jika pengunjung datang dari arah Yogya. Dasar undakan menuju ke puncak perbukitan dimana Makam Syekh Bela-Belu berada terlihat di belakangnya.
      Kuncup bunga berwarna kuning dengan kelopak bunga hijau di puncak pilar-pilar gapura mungkin menjadi penanda bahwa yang empunya makam masih memiliki darah bangsawan. Nama Damiaking yang terlihat pada gapura adalah adik Syekh Bela-Belu yang sama-sama menyingkir dari Majapahit.
      Tidak ada pos jaga atau petunjuk lain di sekitar gerbang masuk Makam Syekh Bela-Belu ini, sehingga kami pun langsung melangkahkan kaki menapaki satu persatu undakan, tanpa mengetahui seberapa banyak jumlah undakan yang harus kami lalui.
Undakan menuju Makam Syekh Bela-Belu ternyata lumayan panjang, tajam menanjak, dan berkelak-kelok. Setidaknya ada lima kelokan menanjak sebelum sampai di pintu gapura atas Makam Syekh Bela-Belu.
      Namun karena kelak-kelok ini pula yang membuat pejalan memiliki kesempatan untuk melihat pemandangan lepas yang indah dari pinggang bukit ke arah Laut Selatan, di cukup banyak titik di sepanjang perjalanan.
      Konon setelah menyingkir dari Majapahit lantaran diserbu Demak, Syekh Bela-Belu yang memiliki nama asli Raden Dandhun itu menetap di perbukitan ini. Namun Situs Tembi menyebutkan bahwa nama asli Syekh Bela-Belu adalah Raden Jaka Bandem.
makam syekh bela-belu parangtritis
      Dari salah satu titik undakan menuju Makam Syekh Bela-Belu saya bisa melihat replika Ka’bah dari ketinggian, yang telah saya lihat juga sebelumnya dari area gumuk pasir. Sebagian gunungan pasir terlihat di sebelah kanan, dengan latar belakang pantai Laut Selatan.
      Silir angin di sepanjang perjalanan pendakian, serta pepohonan yang menaungi undakan, membuat perjalanan terasa tidak begitu berat. Pada titik undakan lain di pinggang bukit menuju Makam Syekh Bela-Belu, saya bisa melihat area di sekitar Pantai Parangkusumo.
      Dari citra satelit, saya perkirakan panjangnya undakan ini tidak kurang dari 300 m, jika ditarik sebagai garis mendatar. Tidak terlalu jauh sebenarnya, namun karena lintasannya menanjak tinggi membuat saya harus beristirahat beberapa kali sambil menikmati panorama Laut Selatan yang indah.
Kami sempat berpapasan dengan sekitar lima orang yang tengah menuruni undakan, dan dari cara berpakaian dan kotornya tubuh mereka tampaknya mereka adalah para pekerja yang tengah melakukan suatu perbaikan bangunan di atas sana. Belakangan saya tahu bahwa salah satunya adalah kuncen Makam Syekh Bela-Belu.
      Beberapa puluh meter sebelum sampai di pintu gerbang atas Makam Syekh Bela-Belu lintasannya agak mendatar, dan terdapat beberapa buah warung di sebelah kanan. Sementara di sebelah kiri tampak beberapa buah makam, serta sebuah Arca Resi Agastya dengan posisi berdiri namun kepalanya telah terpenggal, diapit oleh dua arca lain dalam posisi satu lutut menempel dasar, dan satu lutut lagi menekuk ke atas.
      Resi Agastya terkenal sangat berjasa dalam penyebaran agama Hindu. Ia lahir di Kashi atau Benares, India. Lantaran kebesaran dan kesuciannya ia juga disebut Batara Guru, sebagai perwujudan Siwa di dunia untuk mengajarkan dharma.
makam syekh bela-belu parangtritis
      Cungkup dimana Makam Syekh Bela-Belu dan makam Syekh Damiaking berada, dengan gerbang masuk terlihat di sebelah kirinya. Foto ini diambil dari pesanggrahan yang digunakan oleh para peziarah untuk beristirahat.
      Pintu kayu yang merupakan akses masuk ke dalam Makam Syekh Bela-Belu dibiarkan terbuka tak terkunci meskipun kuncen tengah pergi ke bawah mengambil bahan material bangunan. Tempat pedupaan, dengan cerobong asap di atasnya, serta kotak tempat sedekah, tampak berada di sebelah kiri pintu masuk yang bercat dominan hijau dan kuning ini.
      Di dalam cungkup Makam Syekh Bela-Belu terletak berdampingan dengan Makam Syekh Damiaking. Selama hidupnya Syekh Bela-Belu konon suka sekali makan nasi ayam liwet, yaitu nasi yang dimasak dengan santan kelapa dan diisi daging ayam. Karenanya peziarah yang doanya terkabul akan mengadakan syukuran dengan membuat caos dhahar (mempersembahkan makan) berupa nasi liwet ayam ini.
      Area Makam Syekh Bela-Belu di puncak perbukitan ini cukup luas, dan terlihat relatif rapi. Lazimnya adalah para peziarah yang ingin doanya terkabul, atau setelah doanya terkabul, yang memberikan sedekahnya untuk melakukan perbaikan di tempat seperti ini.
Sebuah arca Lembu Nandi sepanjang sekitar 80 cm dalam posisi kaki tertekuk dengan kepala telah terpenggal tampak teronggok di samping pesanggrahan Makam Syekh Bela-Belu. Karena di bukit ini dulu Syekh Bela-Belu memiliki kegiatan membuat patung yang diantaranya adalah patung punakawan dan patung banteng, maka bukit itu kemudian dikenal oleh penduduk sebagai Bukit Banteng atau Gunung Banteng.
      Di sebelah kanan atas pintu terdapat tulisan yang diukir pada sebidang kayu yang berbunyi “Pasarean Syeh Belabelo Damiaking”, dan di bawah ada peringatan larangan untuk tidur di tempat ini tanpa ijin.
      Saya sempat menunggu kedatangan kuncen Makam Syekh Bela-Belu sekitar lima belas menit di area makam, namun tidak berbincang lama setelah ia datang. Namanya Bapak Jumadi yang saat itu telah berusia 64 tahun. Menurutnya, jumlah undakan yang harus dilalui pengunjung untuk sampai ke Makam Syekh Bela-Belu adalah 350 buah. Ia juga mengatakan bahwa Makam Syekh Bela-Belu lazimnya ramai dikunjungi peziarah setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, serta akan jauh lebih ramai pada malam 1 Syuro.

Pantai Parangtritis, Yogyakarta


   
      Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini. Namun bila Anda tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati di belakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.
      Pssst, YogYES akan memberitahu sebuah rahasia. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.
      Pantai Parangtritis sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hotel Queen of the South adalah sebuah resort yang diberi nama sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan nafas.